2 Juli 2013 pukul 10:09
Waktu pertama kali kerja di salah satu perusahaan Televisi swasta nasional yang baru mau on air di Jakarta, itu tahun 2001, gaji pertama saya cuma Rp. 1.100.000. Lulusan Sarjana dan sempat bekerja di perusahaan News Provider online di Jakarta selama 6 bulan. Jujur waktu pindah kerja ke tempat baru ini, gaji saya turun dari gaji di tempat lama. Entah mengapa, saya tetap menerima tawaran itu meskipun saat itu belum jelas juga akan seperti apa eksistensi perusahaan yang saya masuki ini.
Nah, kebayang donk gaji Rp. 1.100.000 itu harus dipotong ongkos Depok-Mampang yang nilainya kurang lebih Rp. 15.000 PP perhari. Kalau kerja selama 24 hari sebulan, berarti, saya mengeluarkan uang Rp. 390.000 untuk ongkos aja setiap bulannya. Untuk makan, rata2 Rp. 10.000/hari x 26 hari = Rp. 260.000. Total uang makan + transport berarti Rp. 650.000. Ngasih mama Rp. 500.000 tapi kadang gak ngasih kalau jam hang out bareng temen2 lagi tinggi. Hihihihiii.....
Kemudian gaji yang Rp. 1.100.000 itu bertahan selama 6 bulan gak naik2. Baru di bulan ke-7 nambah deh Rp. 400.000. Keren kan? 6 bulan gaji baru naik...hihihii...dan sampai sekarang kenaikan gaji berlangsung setahun sekali dengan diikuti tingkat inflasi yang selisihnya cuma lebih kecil dikit bahkan lebih tinggi dari kenaikan gaji. Hingga sampai tahun ke-4 kalau gak salah, gaji saya gak lebih dari 3 juta....Banyak diantara teman2 saya yang memilih keluar dan mencari penghasilan yang lebih baik. Tapi sebagai kompensasinya, gaji naik sedikit, waktu yang dikorbankan lebih banyak. DILEMA buat saya yang saat itu udah punya satu orang balita. Sebagian teman lain memilih bertahan di kantor, tapi kerjanya sambil menggerutu dan ngedumel sendiri karena gak puas dengan penghasilan yang didapatkan. Kerja jadi gak nyaman kan kalau udah begitu ya. Buat saya kalau memang masih ingin bertahan, ya ikutin aja aturannya, gak suka...silahkan keluar. La wong kita juga cuma buruh kan? Mana ada hak ngatur2 atasan ngasih kita gaji berapa...Ada gak bawahan di kantor yang bisa melakukan itu? Kalau ada, sharing donk gimana caranya....hehehheee...
Selain ilustrasi gaji saya 12 tahun lalu, sekarang saya kasih gambaran gaji seorang reporter yang yang sudah 6 tahun bekerja. Dia mengaku gajinya belum mencapai 5 juta padahal dia seorang single mom dengan anak usia TK. Menyedihkan yaaaa... Memang yang membuat kami betah bekerja di dunia seperti itu, mungkin suasana dan dinamisasi dunia kerja kami. Tapiiii.... makin hari kebutuhan makin bertambah kan dan tentunya kita kerja gak sekedar untuk gengsi ataupun gaya karena berhasil menjadi seorang KARYAWAN di kantor yang mentereng.
Saya kadang suka heran sekaligus ingin ketawa melihat betapa banyaknya anak muda yang tampilannya necis bin keren yang kerjaannya nongkrong terus di cafe tiap hari, padahal saya tahu banget standar gaji mereka. Hmmm...mungkin gak semua ya, mungkin juga ada yang memang punya side job kenceng sehingga bisa menunjang gaya hidup mereka yang kadang melebihi anggarannya. Tapi buat yang bener2 cuma kerja di satu perusahaan aja...Apa kabar yaaaa??? Hehehe...
Nahhhh...itu ilustrasi aja....Maaf jadi melantur kemana-mana. Sekarang saya mau coba bandingkan dengan aktivitas bisnis saya di Oriflame. Bulan pertama join oriflame, bonus saya cuma 40ribuan. Alhamdulillah di bulan kedua langsung naik jadi 750ribuan. Bulan ketiga naik lagi satu jutaan, bulan keempat naik 2 jutaan, dan terus berproses naik turun hingga sekarang di tahun ketiga, di level senior manager, saya bisa punya tambahan income 5-6 jutaan. Dan masih banyak penghasilan lebih tinggi (bisa dilihat dari success plan oriflame) yang akan saya raih dengan konsistensi dan Keyakinan akan sebuah kesuksesan. Sebenarnya apa yang saya capai saat ini mungkin bisa dibilang agak lambat karena pikiran saya masih terbagi antara kantor dan oriflame. Sementara teman-teman saya yang lain, banyak yang sudah punya penghasilan melebihi gaji kantor saya sekarang, hanya dengan 3 tahun jalanin oriflame saja. Ya,nasib setiap orang mungkin berbeda, tapiiii ....di oriflame itu penghasilannya gak hanya ditentukan oleh nasib saja, tapi juga bagaimana pola kerja yang dijalankan. Dan saya mengaku masih mengerjakannya dengan pasing lambat selama ini, karena itu hasilnya pun lambat....hehehhee...
Tapiiii....Memang gak mudah menjalani sebuah bisnis. PAsang surut pasti terjadi. Apalagi bisnis MLM yang agak bergantung pada kekuatan jaringan. Tapi, Alhamdulillah saya sudah merasakan pasang surut itu. Ditinggalkan downline, dicemooh orang, dan hal lain yang mungkin gak mau dipilih sebagian orang. Tapi bagi saya yang sudah merasakan dunia kerja, bekerja di bisnis MLM seperti Oriflame ini justru sama menyenangkannya. Dunianya pun dinamis. Saya bisa berkenalan dengan banyak teman baru dari Sabang sampai Merauke, melihat tempat-tempat baru di seluruh dunia yang mungkin bahkan gak pernah trepikirkan sebelumnya (insya allah 2014 dan tahun-tahun berikutnya), mendapat banyak ilmu baru yang bisa diterapkan di segala bidang kehidupan, dan yang pasti kita punya kehidupan yang lebih positif. Cara pandang dan sikap positif yang dapat membantu kita menjalani kehidupan ini dengan lebih baik. Apalagi buat seorang ibu dan istri seperti saya, berbisnis oriflame ibarat oase di tengah padang pasir yang memberikan kehidupan bagi saya. Yang tadinya niat resign belum kepikiran mau ngapain, sekarang Alhamdulillah dengan oriflame, eksistensi dan ilmu yang saya miliki masih bisa saya gunakan, tanpa harus mengabaikan anak-anak dan suami.
Sooo...This is it....it's just my two cent about working for company and doing Oriflame Business. Gak perlu berpendapat setuju atau nggak, karena saya hanya ingin mencoba menuangkan pengalaman saya di dunia kerja dan oriflame.
Happy Tuesday, everyone!!!
-- Regards,
Eka Fetranika
http://simplebiznet.com/?id=fetranika
Fb/ Pages : Eka Fetranika
twitter : @fetranika
HP/WA : 081908199130
ym : nakamikita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar